annlistyana

sometime life is how we write about

WANITA PERTAMA YANG DIJAMIN MASUK SURGA February 23, 2014

Suatu hari Fatimah menanyakan kepada ayahnya, tentang hal yang sangat ingin dia ketahui, dia berkata :
” ya Rasulullah…
siapakah perempuan yang pertama kali masuk surga? ”

Rasulullah menjawab, “Wahai Fatimah,
jika engkau ingin mengetahui perempuan pertama masuk surga, 
selain Ummul Mukminin, dia adalah Ummu Mutiah.” 

“Siapakah Mutiah itu, ya Rasulullah? 
Di manakah dia tinggal?” tanya Fatimah penasaran.
Karena tidak ada yang mengenal Mutiah . 

Rasulullah menjelaskan, Ummu Mutiah yang dimaksud adalah 
perempuan yang tinggal di pinggiran Kota Madinah. 

Jawaban itu membuat Fatimah tercengang.
Ternyata bukan dirinya perempuan yang masuk surga pertama kali.
Padahal Fatimah sebagai putri Rasulullah, dan telah
menjalankan ibadah, amalan, serta bermuamalah dengan baik dan luar biasa. 

Untuk memenuhi rasa penasaran, Fatimah berkunjung ke rumah Mutiah di pinggiran Madinah. 
Dia ingin menyelidiki amalan dan ibadah apa yang dilakukan 
Mutiah hingga Rasulullah menyebut namanya sebagai perempuan terhormat. 

Keesokan harinya, Fatimah pamit kepada suaminya 
mengunjungi kediaman Mutiah.
Dia mengajak putranya Hasan. 
Setelah mengetuk pintu , memberi salam, terdengar suara dari 
dalam rumah. “Siapa di luar?” tanya Mutiah. 

Fatimah menjawab, “Saya Fatimah, putri Rasulullah.” 

Mutiah belum mau membuka pintu, malah balik bertanya, 
“Ada keperluan apa?” 
Fatimah menjawab, ”ingin bersilaturahim saja. ”

Dari dalam rumah Mutiah
kembali bertanya, “Anda seorang diri atau bersama yang lain?”

“Saya bersama Hasan, putra saya,” 
jawab Fatimah dengan sabar. 

“Maaf, Fatimah,” kata Mutiah, “Saya belum mendapat izin dari 
suami untuk menerima tamu laki-laki.” 

“Tetapi Hasan anak-anak,” balas Fatimah. 

“Walaupun anak-anak, dia lelaki juga. Besok saja kembali lagi 
setelah saya mendapat izin dari suami saya,” timpal Mutiah. 

Fatimah tidak bisa menolak. Setelah mengucapkan salam ia 
bersama Hasan meninggalkan kediaman Mutiah. 

Keesokan harinya, Fatimah kembali mengunjungi rumah Ummu Mutiah.
Kali ini bukan hanya Hasan yang ikut, Husein pun ingin ikut ibunya.
Tiba dikediaman Ummu Mutiah, terjadi lagi dialog dari balik pintu.
Menurut Mutiah, suaminya telah mengizinkan Hasan masuk ke rumahnya.

Sebelum pintu dibuka, Fatimah mengatakan, kali ini bukan 
hanya Hasan yang ikut, melainkan bertiga bersama Husein. 
Mendengar jawaban Fatimah, Mutiah urung membukakan pintu. 
Mutiah menanyakan, apakah Husein seorang perempuan? Fatimah meyakinkan Mutiah bahwa, Husein cucu Rasulullah, saudaranya Hasan.

“Dia seorang anak laki-laki.” “Saya belum meminta izin kepada 
suami kalau Husein mau berkunjung ke rumah ini,” kata Mutiah. 
“Tapi Husein masih anak-anak,” tegas Fatimah. 
“Walaupun anak-anak, Husein laki-laki juga. Maafkan Fatimah,
bagaimana kalau kembali besok, setelah saya meminta izin 
kepada suami,” kata Mutiah. 

Fatimah tidak bisa memaksa Mutiah. Dia bersama Hasan dan 
Husein kembali pulang, namun besok berjanji untuk datang lagi.

Keesokan harinya, Mutiah menyambut kedatangan Fatimah 
bersama Hasan dan Husein dengan gembira. Kali ini kehadiran 
Hasan dan Husein telah mendapat izin dari suaminya. 
Fatimah pun bersemangat ingin segera ‘menyelidiki’ ibadah, amalan, dan muamalah apa saja yang dilakukan perempuan pertama masuk surga ini. 

Keadaan rumah Mutiah jauh dari yang dibayangkan Fatimah. 
Rumahnya sangat sederhana, tanpa perabotan mewah. 
Namun, semuanya tertata rapi dan bersih.
Tempat tidur beralaskan seprai putih yang harum.
Setiap sudut ruangan tampak segar dan wangi membuat penghuninya senang berlama-lama di rumah. 

Hasan dan Husein pun merasa betah bermain dikediaman Ummu Mutiah. 
Selama berkunjung, Fatimah tidak menemukan sesuatu yang 
istimewa dilakukan Mutiah. 

Namun, Ummu Mutiah kelihatan sibuk mondar-mandir
dari dapur ke ruang tamu. “Maaf Fatimah, saya tidak bisa 
duduk tenang menemanimu, karena saya harus menyiapkan
makanan untuk suami,”
ungkap Mutiah yang terlihat sibuk. 

Mendekati waktu makan siang semua masakan sudah tersedia. Mutiah menuangkan satu per satu makanan di wadah khusus 
untuk dikirim kesuaminya yang bekerja di ladang. 
Yang membuat Fatimah heran, selain makanan, 
Mutiah membawa bekal sebuah cambuk.

“Apakah suamimu penggembala?” tanya Fatimah. 
Menurut penuturan Mutiah, suaminya bekerja sebagai petani, bukan penggembala.

“Lalu, untuk apa cambuk tersebut?” tanya Fatimah semakin penasaran. 
Mutiah menjelaskan, cambuk ini sangat penting fungsinya. 
Jika suami Mutiah merasa masakan istrinya tidak enak, dia ridha cambuk yang ‘bicara’.

Mutiah akan menyerahkan cambuk kepada suaminya untuk dipukulkan ke punggungnya. 
“Berarti aku tidak bisa melayani suami dan menyenangkan hatinya,” kata Mutiah. 

“Apakah itu kehendak suamimu?” tanya Fatimah. 
“Ini bukan kehendak suami. Ia tak pernah memintanya.
Suamiku orang yang penuh kasih sayang.
Semua ini kulakukan karena keinginanku sendiri, 
agar jangan sampai menjadi istri durhaka kepada suami.” 
Jawaban Mutiah menjadi jawaban atas misteri yang selama ini dicari Fatimah. 

Masya Allah, demi menyenangkan suami, Mutiah rela dicambuk. “Aku hanya mencari keridhaan dari suami, karena istri yang baik adalah istri yang patuh pada suami yang baik dan suami ridha kepada istrinya,” ujar Mutiah. 

“Ternyata ini rahasianya,” gumam Fatimah. 
Mutiah kini balik heran, 
“Maksudnya rahasia apa, Fatimah?” Fatimah menjelaskan 
bahwa Rasulullah mengatakan dirinya (Ummu Mutiah)
adalah perempuan yang diperkenankan masuk surga pertama kali.
“Pantas saja kelak Mutiah menjadi perempuan pertama masuk surga.
Dia menjaga diri dan sangat tulus berbakti kepada suami,”
ujar Fatimah dalam hati. 

Apa yang dilakukan Mutiah bukan simbol perbudakan suami kepada istrinya. 
Melainkan cermin ketulusan, dan pengorbanan istri yang patut mendapat balasan surga.

Fatimah pun pulang ke rumah dan terus menemui ayahandanya. Beliau berkata : “Anakanda berasa sungguh sedih kerana tidak
dapat meniru dan mengamalkan tingkah laku yang ayahanda ceritakan padaku.
Pantaslah dia menjadi perempuan yang masuk surga pertama kali” 

Rasulullah s.a.w tersenyum mendengar rintihan Saydatina Fatimah . 
Faham dengan perasaan puterinya itu, baginda lantas berkata : 
“Ananda, janganlah terlalu bersusah hati. Wanita yang 
ananda temui itu ialah wanita yang bakal memimpin dan 
memegang tali kerendaan tunggangan ananda ketika masuk 
ke syurga. Sebab itulah dia masuk terlebih dahulu.
Karena dia yang memegang kendali singgasana yang akan kau tumpangi.” 

Mendengar penjelasan itu barulah Saydatina Fatimah tersenyum kembali…

Subhanallah…
Ketahuilah setiap isteri berhak masuk surga,
syarat : patuhi suami dalam hal taqwa kepada Allah Ta’ala.

Semoga para wanitanya menjadi isteri yang patuh,
dalam naungan suami yang bertaqwa pada Allah Ta’ala,
hingga membawanya masuk bersama kedalam Surga.

sumber : facebook.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s