annlistyana

sometime life is how we write about

PERKEMBANGAN KONSEP DIRI May 6, 2012

Konsep diri bukan merupakan faktor bawaan atau herediter. Konsep diri merupakan faktor bentukan dari pengalaman individu selama proses perkembangan dirinya menjadi dewasa. Proses pembentukan tidak terjadi dalam waktu singkat melainkan melalui proses interaksi secara berkesinambungan. Burns (1979) menyatakan bahwa konsep diri berkembang terus sepanjang hidup manusia, namun pada tahap tertentu, perkembangan konsep diri mulai berjalan dalam tempo yang lebih lambat. Secara bertahap individu akan mengalami sensasi dari badannya dan lingkungannya, dan individu akan mulai dapat membedakan keduanya.

Lebih lanjut Cooley (dalam Partosuwido, 1992) menyatakan bahwa konsep diri terbentuk berdasarkan proses belajar tentang nilai-nilai, sikap, peran, dan identitas dalam hubungan interaksi simbolis antara dirinya dan berbagai kelompok primer, misalnya keluarga. Hubungan tatap muka dalam kelompok primer tersebut mampu memberikan umpan balik kepada individu tentang bagaimana penilaian orang lain terhadap dirinya. Dan dalam proses perkembangannya, konsep diri individu dipengaruhi dan sekaligus terdistorsi oleh penilaian dari orang lain (Sarason, 1972). Dengan demikian bisa dikatakan bahwa proses pertumbuhan dan perkembangan individu menuju kedewasaan sangat dipengaruhi oleh lingkungan asuhnya karena seseorang belajar dari lingkungannya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1996), kata lingkungan berasal dari kata lingkung yang berarti sekeliling, sekitar dan diberi imbuhan -an. Jadi, lingkungan memiliki arti seluruh area yang terlingkung dalam suatu batasan tertentu. Sedangkan kata asuh berarti menjaga (merawat dan mendidik) dan memimpin (membantu dan melatih) orang supaya dapat berdiri sendiri. Bisa dikatakan bahwa lingkungan asuh adalah seluruh area yang terlingkung dalam suatu batas tertentu yang berfungsi merawat, mendidik, membantu, dan melati seseorang agar bisa berdiri sendiri.

Menurut Hurlock (1968), individu belum mampu membedakan antara diri dengan yang bukan diri ketika masih bayi. Individu baru sampai tahap bisa membedakan antara dunia luar dengan dirinya ketika berusia 6-8 bulan, dan ketika berusia 3-5 tahun ia mulai mampu mengidentifikasikan dirinya dalam berbagai dimensi kategori, seperti umur, ukuran tubuh, jenis kelamin, kepemilikan benda, warna kulit, dan sebagainya. Tahap ini disebut oleh Allport (Sarason, 1972) dengan istilah early self. Pada tahap ini individu mengembangkan perasaan tubuh-”ku” dan perasaan atas identitas diri. Kemudian, individu mulai punya kemampuan untuk memandang ke dunia di luar dirinya dan mulai belajar merespon orang lain.

Bisa dikatakan bahwa konsep diri fisik muncul lebih dahulu dibandingkan konsep diri psikologis. Konsep diri fisik berubah seiring dengan pertumbuhan tubuh. Hal ini berhubungan dengan perkembangan kognitif individu yang baru sampai pada tahap konkrit. Sedangkan pada perkembangan selanjutnya konsep diri psikologis terbentuk ketika individu mulai menyadari kemampuan dan ketidakmampuannya, keinginan dan kebutuhannya, tanggung jawab, peran, dan aspirasinya.

Individu mengembangkan konsep dirinya dengan cara menginternalisasikan persepsi orang-orang terdekat dalam memandang dirinya. Jika individu memperoleh perlakuan yang penuh kasih sayang maka individu akan menyukai dirinya. Seseorang akan menyukai dirinya jika orang tua memperlihatkan penilaian yang positif terhadap si individu. Ungkapan seperti “Anakku pintar” membuat anak memandang dirinya secara positif dibandingkan dengan nama panggilan “Si pesek”. Sebaliknya, jika individu mendapatkan hukuman dan situasi yang tidak menyenangkan maka individu akan merasa tidak senang pada dirinya sendiri.

Selanjutnya, Bee (1981) mengungkapkan bahwa pada usia sekolah, dimensi kategori tersebut menjadi semakin kompleks sejalan dengan semakin meluasnya lingkup sosialisasi individu. Umpan balik dari teman sebaya dan lingkungan sosial selain keluarga mulai mempengaruhi pandangan dan juga penilaian individu terhadap dirinya. Tahap ini oleh Allport (Sarason, 1972) disebut dengan tahap perkembangan diri sebagai pelaku. Individu mulai belajar untuk bisa mengatasi berbagai macam masalah secara rasional.

Pada masa remaja, individu mulai menilai kembali berbagai kategori yang telah terbentuk sebelumnya dan konsep dirinya menjadi semakin abstrak. Penilaian kembali pandangan dan nilai-nilai ini sesuai dengan dengan tahap perkembangan kognitif yang sedang remaja, dari pemikiran yang bersifat konkrit menjadi lebih abstrak dan subjektif. Piaget mengatakan bahwa remaja sedang berada pada tahap formal operasional, individu belajar untuk berpikir abstrak, menyusun hipotesis, mempertimbangkan alternatif, konsekuensi, dan instropeksi (Fuhrmann, 1990).

Menurut Hollingworth (dalam Jersild, 1965) masa remaja merupakan masa terpenting bagi seseorang untuk menemukan dirinya. Mereka harus menemukan nilai-nilai yang berlaku dan yang akan mereka capai di dalamnya. Individu harus mulai belajar untuk mengatasi masalah-masalah, merencanakan masa depan, dan khususnya mulai memilih jenis pekerjaan yang akan digeluti secara rasional (Allport dalam Sarason, 1972).

Perkembangan kognitif yang terjadi selama masa remaja membuat individu melihat dirinya dengan pemahaman yang berbeda. Kapasitas kognitif seperti itu didapatkan selama melakukan pengamatan terhadap perubahan-perubahan yang dipahami sebagai perubahan diri yang disebabkan oleh perubahan fisik secara kompleks dan perubahan sistem sosial. Fuhrmann (1990) mengungkapkan bahwa pada masa ini individu mulai dapat melihat siapa dirinya, ingin menjadi seperti apa, bagaimana orang lain menilainya, dan bagaimana mereka menilai peran yang mereka jalani sebagai identitas diri.

Bisa dikatakan bahwa salah tugas penting yang harus dilakukan remaja adalah mengembangkan persepsi identitas untuk menemukan jawaban terhadap pertanyaan “Siapakah saya ?” dan “Mau jadi apa saya ?”. Tugas ini sesuai dengan pendapat Hurlock (1973) bahwa pada masa remaja konsep diri merupakan inti dari kepribadian dan sangat mempengaruhi proses perkembangan selanjutnya.

Perjalanan untuk pencarian identitas diri tersebut bukan merupakan proses yang langsung jadi, melainkan sebuah proses berkesinambungan. Konsep diri mulai terbentuk sejak masa bayi di saat individu mulai menyadari keberadaan fisiknya sampai ketika mati di saat individu sudah banyak memahami dirinya, baik secara fisik maupun psikologis.

Kesimpulannya, konsep diri yang berupa totalitas persepsi, pengharapan, dan penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri terbentuk berdasarkan proses belajar tentang nilai, sikap, peran, dan identitas yang berlangsung seiring tugas perkembangan yang diemban.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s